Dr. Lukman
Tamhir, M.Pd
Cara
berpikir ontologis dapat berbenturan dengan suatu agama. Agama selalu berpikir
tentang ada atas dasar iman atau keyakinan (Muhadjir
2011). Filsafat ilmu ontologi tidak mengajak berdebat
antara ilmu dan iman. Ontologi hendak meletakkan dasar keilmuan. Dalam filsafat
ilmu, misalnya ada pemikiran ontologi: benarkah Tuhan itu tidak tidur?.
Jawaban atas realitas abstrak ini perlu dijawab secara ontologisme melalui
perenungan ilmiah. Masalahnya ketika orang membicarakan hasil renungannya tentang
Tuhan dan tidur, berarti Tuhan itu mengenal lelah dan ngantuk. Jika hal ini
benar, maka Tuhan tidak berbeda dengan manusia. Jika manusia tidak
memperoleh jawaban yang memuaskan, muncul lagi pertanyaan bagaimana wujud yang
hakiki dan Tuhan? Bagaimana hubungan antara Tuhan dan daya tangkap manusia
seperti berpikir, merasa, dan mengindra yang membuahkan pengetahuan? Lebih
lanjut, apa sebenarnya yang disebut dengan dengan ilmu pengetahuan, apa saja
jenis-jenis ilmu pengetahuan? Dan mana sumbernya? Banyak pertanyaan yang
menggelitik tentang hakikat kesemestaan. Semakin kritis seseorang berpikir
tentang ada, maka dunia mi seolah-olah semakin rumit dan menarik dikaji.
Hal-hal tersebut semakin memperjelas ontologi
sebagai cabang filsafat ilmu yang mencoba mencermati hakikat keilmuan. Membahas
ilmu dan dasar keilmuan itu ada, bentuk ilmu, wajah ilmu, serta perbandingan
satu ilmu dengan yang lain akan menuntun manusia berpikir ontologis. Ontologi
menjadi pijakan manusia berpikir kritis tentang keadaan alam semesta yang
sesungguhnya. Itulah esensi dan peta jagat raya yang misterius penuh dengan
teka-teki. Ilmu itu telah tertata sistematis dengan pengalaman metodologi yang
rapi. Sebelum menjadi ilmu, sebenarnya masih berupa pengetahuan. Pengetahuan
yaitu keseluruhan yang diketahui yang belum tersusun, baik mengenai metafisik
maupun fisik. Pengetahuan yaitu informasi yang berupa common sense masih
terserak dan umum. Pengetahuan itu juga pengalaman manusia, pengalaman yang
mantap akan menjadi ilmu pengetahuan. Ilmu seperti lidi yang sudah diraut dan
telah menjadi sekumpulan sapu lidi, sedang pengetahuan sepertilidi yang masih
berserakan di pohon kelapa, di pasar, dan di tempat lain yang belum tersusun
dengan baik. Dengan ontologi, orang akan mampu membedakan mana ilmu dan mana
pengetahuan, mana ilmu pengetahuan dan mana non ilmu.
Pemahaman tentang arti dan hakikat filsafat
itu sendiri akan menjadi lebih jelas bila dilihat dalam posisi perbandingan
dengan ilmu lain. Filsafat dalam hal ini sebagai pemikiran yang
universal, menyeluruh, dan mendasar, sementara ilmu pengetahuan lainnya merupakan
pemikiran yang lebih spesifik atau khusus, karena dibatasi pada objek dan sudut
pandang pemikirannya yang khas. Objek penelitian flisafat mencakup segala
sesuatu, sejauh bisa dijangkau oleh pikiran manusia. Filsafat berusaha menyimak
dan menyingkap seluruh kenyataan dan menyelidiki sebab-sebab dasar dan
segala sesuatu. Filsafat, karena ingin mengkritisi dan menembusi berbagai
sekat pemikiran ilmu lainnya, serta berusaha mencapai sebab terakhir dan mutlak
(absolut) dan segala yang ada.
Titik berangkat filsafat yang pertama yaitu
kegiatan manusia, dalam hal ini secara khusus kegiatan pengetahuan dan kehendak
manusia yang merupakan kegiatan pertama yang secara langsung dialami oleh
manusia. Manusia, di dalarn kegiatannya yang pertama dimaksud, menjadi sadar
akan eksisteflsiflya sendiri dan eksistensi orang atau hal lainnya. Filsafat,
karena itu, berusaha mendalami, rnenyingkap, dan menjelaskan kesadaran
eksistensi din manusia dan sesama yang lain, secara luas dan mendalam sampai ke
akar-akar realitasnya yang fundamental. Proses penelitian filsafat itu mulai
dan bentuk pengetahuan biasa yang dimiliki individu dalam kehidupan
sehari-harinya, warisan budaya masa lalu, dan juga hasil penelitian dan
pemikiran ilmu Iainnya yang bersifat khusus. Jenis pengetahuan khusus mi
sungguh membantu filsafat, tetapi juga membantu bentuk-bentuk pengetahuan
khusus dan ilmu lain itu untuk makin memantapkan dan menyempurnakan
prinsip-prinsip dasarnya.
Filsafat berusaha menerangi dunia dengan rasio
manusia, dan karenanya, filsafat lebih merupakan “kebijaksanaan duniawi”, bukan
“kebijaksanaan Ilahi” yang sempurna dan mutlak abadi. Maka itu filsafat berbeda
dengan ilmu teologi. Teologi berusaha melihat Allah dan kegiatannya di dalam
dunia berdasarkan wahyu adikodrati. Biarpun filsafat merupakan kegiatan dan
produk rasio, ia tetap bukan ciptaan rasio semata. Alasannya, karena rasio itu
sendiri merupakan bagian integral dan keutuhan eksistensi manusia yang terkait
dengan aspek-aspek lainnya dan tatanan eksistensi manusia itu sendiri yang
bersifat “monopluralis” (satu di dalam banyak dan banyak di dalam satu).
Filsafat tidak hanya berupaya memuaskan pencarian manusia akan kebenaran,
tetapi ia juga berusah menerangi
dan menuntun arah atau orientasi kehidupan manusia secara kritis dan jelas,
bukan dengan spekulasi yang absurd, hambar, dan penuh khayalan yang sia-sia.
Pengetahuan (knowledge) yaitu sesuatu yang diketahui langsung dan pengalaman,
berdasarkan pancaindra dan diolah oleh akal budi secara spontan. Pengetahuan
masih pada tataran indriawi dan spontanitas belum ditata melalui metode yang
jelas. Pengetahuan berkaitan erat dengan kebenaran, yaitu kesesuaian antara
pengetahuan yang dimiliki manusia dengan realitas yang ada pada objek. Namun
kadang-kadang kebenaran yang ada dalam pengetahuan masih belum tertata dengan
rapi, belum teruji secara metodologis. Orang melihat kebakaran, itu pengetahuan
orang melihat tsunami lari ke tempat yang tinggi, itu pengetahuan. Pengetahuan
masih sering bercampur dengan insting.
Ilmu pengetahuan yaitu pengetahuan yang telah
diolah kembali dan disusun secara metodis, sistematis, konsisten, dan koheren.
Metodis, berarti dalam proses menemukan dan mengolah pengetahuan menggunakan
metode tertentu tidak serampangan. Sistematis, berarti dalam usaha menemukan
kebenaran dan menjabarkan pengetahuan yang diperoleh rnenggunalcan
langkah-langkah tertentu yang terarah dan teratur sehingga menjadi suatu
keseluruhan yang terpadu. Selain tertata, tersistem, dan terpadu pengetahuan
perlu disintesiskan secara koheren. Koheren, berarti setiap bagian dan jabaran
ilmu pengetahuan itu merupakan rangkaian yang saling terkait dan berkesesuaian.
Konsistensi merupakan
ciri dari ilmu pengetahuan yang disebut ilmiah. Iimiah yaitu kadar berpikir,
berakal budi yang disertai penataan.
Wilayah ontologi yaitu ruang penataan
eksistensi keilmuan. dan ciri-ciri ilmu pengetahuan seperti inilah yang
membedakan dengan pengetahuan biasa. Agar pengetahuan menjadi ilmu, maka
pengetahuan itu harUs dipilah (menjadi suatu bidang tertentu dan kenyataan) dan
disusun secara metodis, sistematis, dan konsisten. Melalui metode ilmiah suatu
pengalaman bisa diungkapkan kembali secara jelas, perinci, dan akurat. Penataan
pengetahuan secara metodis dan sistematis membutuhkan proses.
Thales, Plato, dan Aristoteles ialah tokoh
Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dan meletakkan dasar
ilmu pengetahuan. Sebagaimana pengetahuan, hakikat maupun sejarah perkembangan
ilmu ito sendiri merupakan suatu problem di dalam filsafat. Pada zaman Yuflani
Kuno, ilmu dipandang sebagai bagian dan filsafat; pada saat lain, terpisah dan
filsafat. Ilmu dahulu dipandang sebagai disiplin tunggal (bersifat monistik),
dan sekarang dipandang sebagai seperangkat disipun yang dinamis dan
terlepas-lepas berdasarkan spesialisasi ilmu atau keahlian. Dahulu ilmu
dipandang sebagai hal yang berurusan dengan kenyataan (fakta) fisik, sekarang
ilmu dianggap bergumul dengan fenomena (gejala fisik dan nonfisik). Karenanya,
ilmu kemudian dikategorikan ke dalam tipe deduktif dan induktif.
Pada zaman Yunani Kuno, filsafat (yang
dipahami sebagai ilmu). Filsafat dan ilmu bersifat saling menjalin dan orang
tidak memisahkan keduanya sebagai hal yang berbeda. Filsafat dan ilmu berusaha
mene liti dan mencari unsur-unsur dasariah alam semesta. Usaha ini sekarang
disebut usaha keilmuan (usaha ilmiah).
Thales (640-546 SM) merupakan pemikir pertama,
yang dalam sejarah filsafat disebut the Father of Philosophy (Bapak Filsafat).
Banyak sarjana kemudian mengakui Thales sebagai ilmuwan yang pertama di dunia.
Bangsa Yunani rnenggolongkan Thales sebagai salah seorang dan seven wise men of
greece (tujuh orang arif Yunani). Thales mengembangkan filsafat alam
(kosmologi) yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar, dan struktur komposisi
alam semesta. Thales, dalam penyelidikan keilmuannya, menyimpulkan bahwa
penyebab utama (causa prima) dan semua alam itu adalah “air” sebagai materi
dasar dan kosmis. Sebagai ilmuwan, Thales mengembangkan fisika, astronomi, dan
matematika, dengan antara lain mengemukakan beberapa pendapat keilmuannya:
bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari, menghitung terjadinya
gerhana matahari, dan membuktikan dalil-dalil geometri. Prestasi Thales dalam
sejarah keilmuan, ditunjukkannya dalam hal pembuktian dalilnya bahwu kedua
sudut alas dari satu segitiga sama kaki, sama besarnya. Thales, melalui itu,
menunjukkan bahwa ia ialah ahli matematika dunia yang pertama dan Yunani. Para
ahli dewasa mi, justru itu, menyebut Thales sebagai ‘ The Father of Deductive
Reasoning’ (Bapak Penalaran Deduktif). Pythagoras (572-497 SM) ialah ilmuwan
Yunani Kuno yang muncul sebagai ilmuwan matematika. Ia mengajarkan bahwa
bilangan merupakan intisari dan semua benda serta dasar pokok dari sifat-sifat
benda.
Dalil Pythagoras tersebut “number rules the
universe” (bilangan memerintahkan jagat raya ini). ia berpendapat bahwa
matematika merupakan salah satu sarana atau alat bagi pemahaman filsafat. Plato
(428-348 SM) ialah filsafat besar Yunani dan ilmuwan spekulatif, yang
menegaskan bahwa filsafat atau ilmu merupakan pencarian yang bersifat perekaan
(spekulatif) tentang seluruh kebenaran. Plato, dalam hal mi memandang ilmu
sebagai hal yang berhubungan dengan opini atau ajaran (doxa). Ia mengajarkan
bahwa geometri merupakan ilmu rasional berdasarkan akal murni, yang berusaha
membuktikan pernyataan (proposisi) abstrak mengenai ide yang abstrak, misalnya
segitiga sempurna, lingkaran sempurna, dan sebagainya.
Mantap
BalasHapus