Kamis, 18 Juli 2019

Berpikir Ontologis Dalam Ilmu Pengetahuan


Dr. Lukman Tamhir, M.Pd

Cara berpikir ontologis dapat berbenturan dengan suatu agama. Agama selalu berpikir tentang ada atas dasar iman atau keyakinan (Muhadjir 2011).  Filsafat ilmu ontologi tidak mengajak berdebat antara ilmu dan iman. Ontologi hendak meletakkan dasar keilmuan. Dalam filsafat ilmu, misalnya ada pemikiran ontologi: benarkah Tuhan itu tidak tidur?. Jawaban atas realitas abstrak ini perlu dijawab secara ontologisme melalui perenungan ilmiah. Masalahnya ketika orang membicarakan hasil renungannya tentang Tuhan dan tidur, berarti Tuhan itu mengenal lelah dan ngantuk. Jika hal ini benar, maka Tuhan tidak berbeda dengan manusia. Jika manusia tidak memperoleh jawaban yang memuaskan, muncul lagi pertanyaan bagaimana wujud yang hakiki dan Tuhan? Bagaimana hubungan antara Tuhan dan daya tangkap manusia seperti berpikir, merasa, dan mengindra yang membuahkan pengetahuan? Lebih lanjut, apa sebenarnya yang disebut dengan dengan ilmu pengetahuan, apa saja jenis-jenis ilmu pengetahuan? Dan mana sumbernya? Banyak pertanyaan yang menggelitik tentang hakikat kesemestaan. Semakin kritis seseorang berpikir tentang ada, maka dunia mi seolah-olah semakin rumit dan menarik dikaji.
Hal-hal tersebut semakin memperjelas ontologi sebagai cabang filsafat ilmu yang mencoba mencermati hakikat keilmuan. Membahas ilmu dan dasar keilmuan itu ada, bentuk ilmu, wajah ilmu, serta perbandingan satu ilmu dengan yang lain akan menuntun manusia berpikir ontologis. Ontologi menjadi pijakan manusia berpikir kritis tentang keadaan alam semesta yang sesungguhnya. Itulah esensi dan peta jagat raya yang misterius penuh dengan teka-teki. Ilmu itu telah tertata sistematis dengan pengalaman metodologi yang rapi. Sebelum menjadi ilmu, sebenarnya masih berupa pengetahuan. Pengetahuan yaitu keseluruhan yang diketahui yang belum tersusun, baik mengenai metafisik maupun fisik. Pengetahuan yaitu informasi yang berupa common sense masih terserak dan umum. Pengetahuan itu juga pengalaman manusia, pengalaman yang mantap akan menjadi ilmu pengetahuan. Ilmu seperti lidi yang sudah diraut dan telah menjadi sekumpulan sapu lidi, sedang pengetahuan sepertilidi yang masih berserakan di pohon kelapa, di pasar, dan di tempat lain yang belum tersusun dengan baik. Dengan ontologi, orang akan mampu membedakan mana ilmu dan mana pengetahuan, mana ilmu pengetahuan dan mana non ilmu.
Pemahaman tentang arti dan hakikat filsafat itu sendiri akan menjadi lebih jelas bila dilihat dalam posisi perbandingan dengan ilmu lain. Filsafat dalam hal ini  sebagai pemikiran yang universal, menyeluruh, dan mendasar, sementara ilmu pengetahuan lainnya merupakan pemikiran yang lebih spesifik atau khusus, karena dibatasi pada objek dan sudut pandang pemikirannya yang khas. Objek penelitian flisafat mencakup segala sesuatu, sejauh bisa dijangkau oleh pikiran manusia. Filsafat berusaha menyimak dan menyingkap seluruh kenyataan dan menyelidiki sebab-sebab dasar dan segala sesuatu. Filsafat, karena ingin mengkritisi dan menembusi berbagai sekat pemikiran ilmu lainnya, serta berusaha mencapai sebab terakhir dan mutlak (absolut) dan segala yang ada.
Titik berangkat filsafat yang pertama yaitu kegiatan manusia, dalam hal ini secara khusus kegiatan pengetahuan dan kehendak manusia yang merupakan kegiatan pertama yang secara langsung dialami oleh manusia. Manusia, di dalarn kegiatannya yang pertama dimaksud, menjadi sadar akan eksisteflsiflya sendiri dan eksistensi orang atau hal lainnya. Filsafat, karena itu, berusaha mendalami, rnenyingkap, dan menjelaskan kesadaran eksistensi din manusia dan sesama yang lain, secara luas dan mendalam sampai ke akar-akar realitasnya yang fundamental. Proses penelitian filsafat itu mulai dan bentuk pengetahuan biasa yang dimiliki individu dalam kehidupan sehari-harinya, warisan budaya masa lalu, dan juga hasil penelitian dan pemikiran ilmu Iainnya yang bersifat khusus. Jenis pengetahuan khusus mi sungguh membantu filsafat, tetapi juga membantu bentuk-bentuk pengetahuan khusus dan ilmu lain itu untuk makin memantapkan dan menyempurnakan prinsip-prinsip dasarnya.
Filsafat berusaha menerangi dunia dengan rasio manusia, dan karenanya, filsafat lebih merupakan “kebijaksanaan duniawi”, bukan “kebijaksanaan Ilahi” yang sempurna dan mutlak abadi. Maka itu filsafat berbeda dengan ilmu teologi. Teologi berusaha melihat Allah dan kegiatannya di dalam dunia berdasarkan wahyu adikodrati. Biarpun filsafat merupakan kegiatan dan produk rasio, ia tetap bukan ciptaan rasio semata. Alasannya, karena rasio itu sendiri merupakan bagian integral dan keutuhan eksistensi manusia yang terkait dengan aspek-aspek lainnya dan tatanan eksistensi manusia itu sendiri yang bersifat “monopluralis” (satu di dalam banyak dan banyak di dalam satu). Filsafat tidak hanya berupaya memuaskan pencarian manusia akan kebenaran, tetapi ia juga berusah menerangi dan menuntun arah atau orientasi kehidupan manusia secara kritis dan jelas, bukan dengan spekulasi yang absurd, hambar, dan penuh khayalan yang sia-sia.
Pengetahuan (knowledge) yaitu sesuatu yang diketahui langsung dan pengalaman, berdasarkan pancaindra dan diolah oleh akal budi secara spontan. Pengetahuan masih pada tataran indriawi dan spontanitas belum ditata melalui metode yang jelas. Pengetahuan berkaitan erat dengan kebenaran, yaitu kesesuaian antara pengetahuan yang dimiliki manusia dengan realitas yang ada pada objek. Namun kadang-kadang kebenaran yang ada dalam pengetahuan masih belum tertata dengan rapi, belum teruji secara metodologis. Orang melihat kebakaran, itu pengetahuan orang melihat tsunami lari ke tempat yang tinggi, itu pengetahuan. Pengetahuan masih sering bercampur dengan insting.
Ilmu pengetahuan yaitu pengetahuan yang telah diolah kembali dan disusun secara metodis, sistematis, konsisten, dan koheren. Metodis, berarti dalam proses menemukan dan mengolah pengetahuan menggunakan metode tertentu tidak serampangan. Sistematis, berarti dalam usaha menemukan kebenaran dan menjabarkan pengetahuan yang diperoleh rnenggunalcan langkah-langkah tertentu yang terarah dan teratur sehingga menjadi suatu keseluruhan yang terpadu. Selain tertata, tersistem, dan terpadu pengetahuan perlu disintesiskan secara koheren. Koheren, berarti setiap bagian dan jabaran ilmu pengetahuan itu merupakan rangkaian yang saling terkait dan berkesesuaian. Konsistensi merupakan ciri dari ilmu pengetahuan yang disebut ilmiah. Iimiah yaitu kadar berpikir, berakal budi yang disertai penataan.
Wilayah ontologi yaitu ruang penataan eksistensi keilmuan. dan ciri-ciri ilmu pengetahuan seperti inilah yang membedakan dengan pengetahuan biasa. Agar pengetahuan menjadi ilmu, maka pengetahuan itu harUs dipilah (menjadi suatu bidang tertentu dan kenyataan) dan disusun secara metodis, sistematis, dan konsisten. Melalui metode ilmiah suatu pengalaman bisa diungkapkan kembali secara jelas, perinci, dan akurat. Penataan pengetahuan secara metodis dan sistematis membutuhkan proses.
Thales, Plato, dan Aristoteles ialah tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dan meletakkan dasar ilmu pengetahuan. Sebagaimana pengetahuan, hakikat maupun sejarah perkembangan ilmu ito sendiri merupakan suatu problem di dalam filsafat. Pada zaman Yuflani Kuno, ilmu dipandang sebagai bagian dan filsafat; pada saat lain, terpisah dan filsafat. Ilmu dahulu dipandang sebagai disiplin tunggal (bersifat monistik), dan sekarang dipandang sebagai seperangkat disipun yang dinamis dan terlepas-lepas berdasarkan spesialisasi ilmu atau keahlian. Dahulu ilmu dipandang sebagai hal yang berurusan dengan kenyataan (fakta) fisik, sekarang ilmu dianggap bergumul dengan fenomena (gejala fisik dan nonfisik). Karenanya, ilmu kemudian dikategorikan ke dalam tipe deduktif dan induktif.
Pada zaman Yunani Kuno, filsafat (yang dipahami sebagai ilmu). Filsafat dan ilmu bersifat saling menjalin dan orang tidak memisahkan keduanya sebagai hal yang berbeda. Filsafat dan ilmu berusaha mene liti dan mencari unsur-unsur dasariah alam semesta. Usaha ini sekarang disebut usaha keilmuan (usaha ilmiah).
Thales (640-546 SM) merupakan pemikir pertama, yang dalam sejarah filsafat disebut the Father of Philosophy (Bapak Filsafat). Banyak sarjana kemudian mengakui Thales sebagai ilmuwan yang pertama di dunia. Bangsa Yunani rnenggolongkan Thales sebagai salah seorang dan seven wise men of greece (tujuh orang arif Yunani). Thales mengembangkan filsafat alam (kosmologi) yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar, dan struktur komposisi alam semesta. Thales, dalam penyelidikan keilmuannya, menyimpulkan bahwa penyebab utama (causa prima) dan semua alam itu adalah “air” sebagai materi dasar dan kosmis. Sebagai ilmuwan, Thales mengembangkan fisika, astronomi, dan matematika, dengan antara lain mengemukakan beberapa pendapat keilmuannya: bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari, menghitung terjadinya gerhana matahari, dan membuktikan dalil-dalil geometri. Prestasi Thales dalam sejarah keilmuan, ditunjukkannya dalam hal pembuktian dalilnya bahwu kedua sudut alas dari satu segitiga sama kaki, sama besarnya. Thales, melalui itu, menunjukkan bahwa ia ialah ahli matematika dunia yang pertama dan Yunani. Para ahli dewasa mi, justru itu, menyebut Thales sebagai ‘ The Father of Deductive Reasoning’ (Bapak Penalaran Deduktif). Pythagoras (572-497 SM) ialah ilmuwan Yunani Kuno yang muncul sebagai ilmuwan matematika. Ia mengajarkan bahwa bilangan merupakan intisari dan semua benda serta dasar pokok dari sifat-sifat benda.
Dalil Pythagoras tersebut “number rules the universe” (bilangan memerintahkan jagat raya ini). ia berpendapat bahwa matematika merupakan salah satu sarana atau alat bagi pemahaman filsafat. Plato (428-348 SM) ialah filsafat besar Yunani dan ilmuwan spekulatif, yang menegaskan bahwa filsafat atau ilmu merupakan pencarian yang bersifat perekaan (spekulatif) tentang seluruh kebenaran. Plato, dalam hal mi memandang ilmu sebagai hal yang berhubungan dengan opini atau ajaran (doxa). Ia mengajarkan bahwa geometri merupakan ilmu rasional berdasarkan akal murni, yang berusaha membuktikan pernyataan (proposisi) abstrak mengenai ide yang abstrak, misalnya segitiga sempurna, lingkaran sempurna, dan sebagainya.

1 komentar: